replika

replika
it's my mind

Minggu, 17 Januari 2010

Sore di lembah kemunafikan

sudah terlalu sore tuk mengeluh dimana kami berdiri di dimensi ini,
lihatkah sekitar?!
Inilah nyata..!!
lembah kemunafikan,
diantara topeng2 beretika,
aroma busuk tlah lama terendus mulus bak prengus
inikah nyata!?
Simpanlah bangga itu, bungkus dalam buai posisi mu, karna kami takkan iri..
tak usah ditutupi
tak jua perlu naskah promosi
karna merahmu tlah membiru
kami bukan pendengki, apalagi penggila birokrasi,
kembangkan reputasi mu
biarkan tersirat tajam dalam binar lekuk palsumu wahai para penghuni sore..


== dari balik kelas ==

Kawan Muramku

Coba pejamkan mata ,
merajut ketiadaan
walau tlah terinjak tetap tersenyum tenang
sungguh pasrah yg sempurna..

Telah lama tertidur ,
enggan menatap kedepan
Lentera merah padam diujung pagi
nyaman berteman ketertinggalan..

Bangunlah kawan muram ku..!!

Rangkai kembali ruang obsesimu..

Biar mereka lihat seragam kusutmu..

Teriaklah.. hancurkan telinga bumi..

tuntaskan pelangimu..

sekulit ari

Berlogika menuai luka
berdialektika meraih duka
dia.. tak mau tersingkir dan mendebu
dia.. tak juga ingin menyeringai jadi bangkai
walau terkotak-kotak dalam antagonisme kelas
biarpun terseret arus hedonisme
disini..!!
Perjudian ideologi trus menghantui
disini..!!
Semua menari indah bagai akrilik dalam kanvas realita

Dimensi Kertas

Lembar melebar
hitam putih bereaksi

melipat terlipat
membentuk dimensi berorasi

kertas-kertas bertebaran
mengancam lewat kelamnya malam

jika dibakar kami kan lawan

anginkan bawa abu kami pada corengan wajahmu..

asap kami memberi tanda
memanggil kebenaran asli tragedi

mungkin tak hari ini

namun
helaian kami tlah menjalar melaju dan berakar...

cadelisme

masih saja Desember..
ketika marah menjadi tak terarah
ketika senyum tak lagi teduhkan lapar

selalu Desember
kala qu pintal remang jadi petang
kala qu gali penat dalam sesat

merasa jadi Desember
tempat bermuara
bermuram durja

mengapa harus Desember
melepas memori dipojok erotisme ini
aku bukan pemikir
bukan juga melankolia

Desember qu tak begitu cemerlang
namun tak qu biarkan dia lekas menghilang..

yang Bodoh mulai bertanya

Dosa memilih manusia, menunjuk siapa yang pantas mereguk nikmatnya surga dan siapa yang lacur terbakar direkahan neraka..
sesungguhnya..apakah yang di sebut dengan dosa???
mengapa dosa seakan memiliki kuasa lebih yang dengan seenaknya dapat mengendalikan manusia..
dan mengapa manusia percaya pada sebuah konsep abstrak yang disebut dosa..
diruang ini semua memang terlihat bodoh dan dangkal, oleh karena itu ruang ini dipenuhi banyak pertanyaan yang siapa tahu ada yang bersedia tuk menjawab..
kembali pada dosa..dalam ruang ini,dosa dipahami sebagai suatu konsep yang diciptakan Tuhan untuk mempertegas otoritasnya terhadap manusia..
Otoritas seperti apakah yang diinginkan Tuhan ???
oleh karena itu zat yang disebut Tuhan menciptakan konsep abstrak yang biasa disebut dosa..
jadi patutkah manusia takut pada dosa???
apa hidup seseorang hanya terbatas pada dosa dan pahala
benarkah semua itu ada..
bukankah semua yang diperbuat manusia adalah kebebasan dan tanggung jawab dari manusia itu sendiri,
dosa...sebenarnya apa yg dipikirkan Tuhan saat mencetuskannya
aku masih bertanya-tanya..

'Jika memang aku terlalu bodoh dan mendua
maafkan aku
bukankan itu yang menjadi pembeda antara aku dg Kw'

Ujung Aspal dan Rintihan Kecebong si Kodok Tua

Jalan itu bernama Ujung Aspal.
Dusun teduh dengan rimbunan pohon rambutan dan petak-petak sawah yang menyapa tentram ditiap paginya.
Tempat para bocah saling melempar canda dan kecebong-kecebong yang memulai orkestrnya di musim kawin bulan Desember.
Seingat si kecebong, dulu ia bebas bernyanyi sambil menghirup sejuknya kabut batas alam dengan bonus percikan embun yang menengger didaun kaca beling.
Dimasa itu, sang kecebong adalah aristokrat di hampir tiap petak sawah dan rawa Ujung Aspal.
Suara dentum orkestra si kecebong beserta sanak familiynya akan menggema diiringi ritme air hujan yang membasahi tanah merah. Tanah yang belok, tanpa aspal, tanpa sandal.

Kini, si kecebong itu telah menjelma menjadi kodok tua. Orkestranya tutup. Nyanyiannya tak lagi terdengar.
Suaranya tak berdaya beradu dengan deru pekik kendaraan bermotor. Si kodok tua tergusur.
Didesak pergi dari permainya kampung halaman.
Tak lagi ada keemasan padi dan wajah sinis si kerbau yang diejeki bocah-bocah dekiL. Bocah yang tubuhnya wangi aroma matahari.
Rawanya hilang berganti jejeran kontrakan.
Kulitnya mengkerut, tak kuasa lagi bersembunyi dari rekahan siang.
Dia berkeringat, ingin rasanya minggat.
Si kodok tua gusar dan nyasar.
Kini, si kodok tak lagi dapat bernyanyi setiap hari.
Suaranya mendem tergilas, tergerus, tererosi zaman.
Wajahnya murung dengan tatapan nanar.
Kini hanya ukulele dan rintik hujan di bulan yang tak lagi Desember yang bersedia temani rentahnya di Ujung Aspal.